Senin, 29 Mei 2017
03:00
Ribuan tahun lalu Nabi Muhammad SAW meningalkan kita. Jenazahnya terkubur di Madinah. Tapi, namanya terus disebut, di mana-mana. Ratusan juta orang setiap hari menyebut-nyebut namanya, baik dalam shalat maupun di perkumpulan-perkumpulan zikir yang dikelola ordo-ordo tarekat.
Di kalangan
para sufi, Nabi tak diyakini betul-betul mati. Mereka meyakini, Nabi bisa hadir
di mana-mana, membimbing umat dan para ulamanya.
Nabi SAW
bisa datang menjumpai umat terkasihnya dalam mimpi. Dan mimpi itu pasti benar,
karena setan tak bisa menyerupi Nabi walau dalam mimpi.
Konon Nabi
SAW pernah bersabda, man ra’ani fi al manam, fasayarani fi al-yaqzhah (barangsiapa
menyaksikan aku dalam mimpi, maka suatu waktu ia akan menyaksikan aku ketika
terjaga).
Alkisah,
Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang hidup ratusan tahun setelah Nabi SAW, pernah
didatangi Nabi SAW. Al-Jilani berkata, “dalam kurun waktu agak lama saya tak
menikah, hingga Nabi SAW datang menegurku, “mengapa kamu tidak menikah”.
Pada
kesempatan lain, Nabi SAW datang meludahi lisan al-Jilani untuk melancarkan
perjuangan dakwahnya. Wallahu a'lam bis shawab.
Banyak umat
Islam mengharapkan perjumpaan itu. Sekiranya tak terjadi ketika terjaga, maka
cukup di dalam mimpi saja.
Bulan
Ramadhan adalah bulan untuk mentadabburkan makna-makna Al-Qur’an dan bulan
melipatgandakan bacaan shalawat kepada Sang Junjungan, Nabi Muhammad SAW. Allahumma
shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ali sayyidina Muhammad.
KH Abdul
Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar