Ahad, 30 Maret 2014
09:00
Oleh Ahmad Tohari
Bus yang
aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir mencapai pucuk
langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua memanggang bus
itu bersama isinya. Untung bus tak begitu penuh sehingga sesama penumpang tak
perlu bersinggungan badan.
<>Namun
dari sebelah kiriku bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan
kipas koran. Dari belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang
lelaki setengah mengantuk.
Begitu
bus berhenti, puluhan pedagang asongan menyerbu masuk. Bahkan beberapa di
antara mereka sudah membajing loncat ketika bus masih berada di mulut terminal.
Bus menjadi pasar yang sangat hiruk-pikuk. Celakanya, mesin bus tidak dimatikan
dan sopir melompat turun begitu saja. Dan para pedagang asongan itu menawarkan
dagangan dengan suara melengking agar bisa mengatasi derum mesin. Mereka
menyodor-nyodorkan dagangan, bila perlu sampai dekat sekali ke mata para
penumpang. Kemudian mereka mengeluh ketika mendapati tak seorang pun mau
berbelanja. Seorang di antara mereka malah mengutuk dengan mengatakan para
penumpang adalah manusia-manusia kikir, atau manusia-manusia yang tak punya
duit.
Suasana
sungguh gerah, sangat bising dan para penumpang tak berdaya melawan keadaan
yang sangat menyiksa itu. Dalam keadaan seperti itu, harapan para penumpang
hanya satu; hendaknya sopir cepat datang dan bus segera bergerak kembali untuk
meneruskan perjalanan ke Jakarta. Namun laki-laki yang menjadi tumpuan harapan
itu kelihatan sibuk dengan kesenangannya sendiri. Sopir itu enak-enak bergurau
dengan seorang perempuan penjual buah.
Sementara
para penumpang lain kelihatan sangat gelisah dan jengkel, aku mencoba bersikap
lain. Perjalanan semacam ini sudah puluhan kali aku alami. Dari pengalaman
seperti itu aku mengerti bahwa ketidaknyamanan dalam perjalanan tak perlu
dikeluhkan karena sama sekali tidak mengatasi keadaan. Supaya jiwa dan raga
tidak tersiksa, aku selalu mencoba berdamai dengan keadaan. Maka kubaca
semuanya dengan tenang: Sopir yang tak acuh terhadap nasib para penumpang itu,
tukang-tukang asongan yang sangat berisik itu, dan lelaki yang setengah
mengantuk sambil mengepulkan asap di belakangku itu.
Masih
banyak hal yang belum sempat aku baca ketika seorang lelaki naik ke dalam bus.
Celana, baju, dan kopiahnya berwarna hitam. Dia naik dari pintu depan. Begitu
naik lelaki itu mengucapkan salam dengan fasih. Kemudian dari mulutnya mengalir
Shalawat Badar dalam suara yang bening. Dan tangannya menengadah. Lelaki itu
mengemis. Aku membaca tentang pengemis ini dengan perasaan yang sangat dalam.
Aku dengarkan baik-baik shalawatnya. Ya, persis. Aku pun sering membaca
shalawat seperti itu terutama dalam pengajian-pengajian umum atau rapat-rapat.
Sekarang kulihat dan kudengar sendiri ada lelaki membaca shalawat badar untuk
mengemis.
Kukira
pengemis itu sering mendatangi pengajian-pengajian. Kukira dia sering
mendengar ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup baik dunia maupun akhirat.
Lalu dari pengajian seperti itu dia hanya mendapat sesuatu untuk membela
kehidupannya di dunia. Sesuatu itu adalah Shalawat Badar yang kini sedang
dikumandangkannya sambil menadahkan tangan.
Semula
ada perasaan tidak setuju mengapa hal-hal yang kudus seperti bacaan shalawat
itu dipakai untuk mengemis. Tetapi perasaan demikian lenyap ketika pengemis itu
sudah berdiri di depanku. Mungkin karena shalawat itu maka tanganku bergerak
merogoh kantong dan memberikan selembar ratusan. Atau karena ada banyak hal
dapat dibaca pada wajah si pengemis itu.
Di sana
aku lihat kebodohan, kepasrahan yang memperkuat penampilan kemiskinan.
Wajah-wajah seperti itu sangat kuhafal karena selalu hadir mewarnai pengajian
yang sering diawali dengan Shalawat Badar. Ya. Jejak-jejak pengajian dan
ceramah-ceramah tentang kebaikan hidup ada berbekas pada wajah pengemis itu.
Lalu mengapa dari pengajian yang sering didatanginya ia hanya bisa menghafal
Shalawat Badar dan kini menggunakannya untuk mengemis? Ah, kukira ada yang tak
beres. Ada yang salah" Sayangnya, aku tak begitu tega menyalahkan pengemis
yang terus membaca shalawat itu.
Perhatianku
terhadap si pengemis terputus oleh bunyi pintu bus yang dibanting. Kulihat
sopir sudah duduk di belakang kemudi. Kondektur melompat masuk dan berte-riak
kepada sopir. Teriakannya ditelan oleh bunyi mesin disel yang meraung-raung.
Kudengar kedua awak bus itu bertengkar. Kondektur tampaknya enggan melayani bus
yang tidak penuh, sementara sopir sudah bosan menunggu tambahan penumpang yang
ternyata tak kunjung datang. Mereka terus bertengkar melalui kata-kata yang tak
sedap didengar. Dan bus terus melaju meninggalkan terminal Cirebon.
Sopir
yang marah menjalankan busnya dengan gila-gilaan. Kondektur diam. Tetapi
kata-kata kasarnya mendadak tumpah lagi. Kali ini bukan kepada sopir, melainkan
kepada pengemis yang jongkok dekat pintu belakang.
"He,
sira! Kenapa kamu tidak turun? Mau jadi gembel di Jakarta? Kamu tidak tahu
gembel di sana pada dibuang ke laut dijadikan rumpon?"
Pengemis
itu diam saja.
"Turun!"
"Sira
beli mikir! Bus cepat seperti ini aku harus turun?"
"Tadi
siapa suruh kamu naik?"
"Saya
naik sendiri. Tapi saya tidak ingin ikut. Saya cuma mau ngemis, kok. Coba,
suruh sopir berhenti. Nanti saya akan turun. Mumpung belum jauh."
Kondektur
kehabisan kata-kata. Dipandangnya pengemis itu seperti ia hendak menelannya
bulat-bulat. Yang dipandang pasrah. Dia tampaknya rela diperlakukan sebagai apa
saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin cepat. Kondektur
berlalu sambil bersungut. Si pengemis yang merasa sedikit lega, bergerak
memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali bergumam:
"... shalatullah, salamullah, 'ala thaha rasulillah...."
Shalawat
itu terus mengalun dan terdengar makin jelas karena tak ada lagi suara
kondektur. Para penumpang membisu dan terlena dalam pikiran masing-masing. Aku
pun mulai mengantuk sehingga lama-lama aku tak bisa membedakan mana suara
shalawat dan mana derum mesin diesel. Boleh jadi aku sudah berada di alam mimpi
dan di sana kulihat ribuan orang membaca shalawat. Anehnya, mereka yang
berjumlah banyak sekali itu memiliki rupa yang sama. Mereka semuanya mirip
sekali dengan pengemis yang naik dalam bus yang kutumpangi di terminal Cirebon.
Dan dalam mimpi pun aku berpendapat bahwa mereka bisa menghafal teks shalawat
itu dengan sempurna karena mereka sering mendatangi ceramah-ceramah tentang
kebaikan hidup di dunia maupun akhirat. Dan dari ceramah-ceramah seperti itu
mereka hanya memperoleh hafalan yang untungnya boleh dipakai modal menadahkan
tangan.
Kukira
aku masih dalam mimpi ketika kurasakan peristiwa yang hebat. Mula-mula kudengar
guntur meledak dengan suara dahsyat. Kemudian kulihat mayat-mayat beterbangan
dan jatuh di sekelilingku. Mayat-mayat itu terluka dan beberapa di antaranya
kelihatan sangat mengerikan. Karena merasa takut aku pun lari. Namun sebuah
batu tersandung dan aku jatuh ke tanah. Mulut terasa asin dan aku meludah.
Ternyata ludahku merah. Terasa ada cairan mengalir dari lubang hidungku. Ketika
kuraba, cairan itu pun merah. Ya Tuhan. Tiba-tiba aku tersadar bahwa diriku
terluka parah. Aku terjaga dan di depanku ada malapetaka. Bus yang kutumpangi
sudah terkapar di tengah sawah dan bentuknya sudah tak keruan. Di dekatnya
terguling sebuah truk tangki yang tak kalah ringseknya. Dalam keadaan panik aku
mencoba bangkit bergerak ke jalan raya. Namun rasa sakit memaksaku duduk
kembali. Kulihat banyak kendaraan berhenti. Kudengar orang-orang merintih. Lalu
samar-samar kulihat seorang lelaki kusut keluar dari bangkai bus. Badannya tak
tergores sedikit pun. Lelaki itu dengan tenang berjalan kembali ke arah kota
Cirebon.
Telingaku
dengan gamblang mendengar suara lelaki yang terus berjalan dengan tenang ke
arah timur itu: "shalatullah, salamullah, 'ala thaha rasulillah..."
Cerpen
ini dibacakan Abdullah Wong di gedung PBNU, Jumat 28 Maret 2014 setelah Pidato
Keudayaan Ahmad Tohari berjudul "Membela dengan Sastra"
Ilustrasi
cerpen lukisan Affandi
